Kamis, Oktober 06, 2011

Liem Swie King


Liem Swie King, lahir di Kudus, Jawa Tengah, 28 Februari 1956 merupakan seorang pebulutangkis legendaris Indonesia dengan segudang prestasi. Kiprahnya dalam dunia bulutangkis dimulai sejak usianya 17 tahun. Pada masa itu ia berhasil meraih gelar juara pertamanya pada Kejuaraan Yunior se-Jawa Tengah pada tahun 1972. Hanya berselang satu tahun, pada 1973 King berhasil meraih Juara pada Pekan Olahraga Nasional. Prestasi itulah yang mengantarkan King untuk direkrut masuk pelatnas yang pada saat itu bermarkas di Hall C Senayan.

Kiprahnya dalam kejuaraan internasional juga sangat gemilang. Berhasil lolos ke putaran Final All England pada tahun 1976 dan 1977, dan akhirnya berhasil keluar sebagai juara pada tahun 1978, 1979, 1981 pada kejuaraan paling bergengsi kala itu. Dalam meraih gelar juara All England 1978, King yang saat itu berusia 20 tahun, berhasil mengalahkan maestro bulutangkis Indonesia, Rudi Hartono. Sejak saat itulah King berhasil menyedot animo penggemar bulutangkis Dunia dan disebut-sebut sebagai pewaris kejayaan Rudi Hartono. Tidak hanya itu, King juga perlahan tumbuh menjadi pebulutangkis yang disegani dunia. King berhasil membawa lambang supremasi bulu tangkis beregu putra Piala Thomas tahun 1976, 1979, dan 1984. Gelar menjadi puluhan bila ditambah dengan turnamen "grand prix" yang lain. King juga menyumbang medali emas Asian Games di Bangkok 1978, dan enam kali membela tim Piala Thomas.

Tapi dia hanya manusia yang tidak pernah sempurna. Banyak pengamat menilai dia punya kekurangan pada mentalnya. Menjelang final All England 1980, setelah lampu-lampu dipadamkan dia tidak segera bisa tidur. Memikirkan lawan perkasa yang sudah garang menantinya: Prakash Padukone dari India. Kemudian King kalah. King juga pernah diskors PBSI. Dia terlambat datang di partai tunggal putra SEA Games melawan Lee Hai Thong dari Singapura, akibatnya dia dinyatakan kalah WO. Dalam masa skors itu, King yang terkenal pemalu itu tiba-tiba terjun ke dunia film. Ia bermain dalam film Sakura Dalam Pelukan arahan sutradara Fritz G. Schadt pada tahun 1979.

Mei 1984, pada kejuaraan bulu tangkis beregu Piala Thomas melawan Cina, lewat pertarungan seru di Kuala Lumpur, King yang bermain di tunggal pertama dan diharapkan membawa kemenangan, sekaligus memudahkan jalan bagi pemain selanjutnya ternyata dia kandas. Ia kalah rubber set 15-7, 11-15, 10-15 dari pemain Cina yang jadi musuh bebuyutannya, Luan Jin, tapi Piala Thomas berhasil diboyong. Demikian juga beberapa waktu sebelumnya, di arena All England, King juga gagal. Tapi kali ini dia dihentikan pemain tangguh Denmark, Morten Frost Hansen. Dari serangkaian kegagalan tersebut, King akhirnya memutuskan mundur dari percaturan bulu tangkis tunggal perseorangan, setelah berkiprah selama 15 tahun.

Film King, Semangat ala Liem Swie King


Kontribusi dalam dunia film ternyata tidak hanya berakhir sampai Sakura Dalam Pelukan. Walaupun dirinya tidak terjun secara langsung pada film bertajuk King yang disutradarai Ari Sihasale tersebut, namun kejayaan King di dunia bulutangkis lah yang mengilhami film King. Secara garis besar, film King memang bukanlah otobiografi tentang Liem Swie King. Film ini menceritakan tentang Kisah perjuangan dan perjalanan panjang seorang anak bernama Guntur dalam meraih cita-citanya menjadi seorang juara bulu tangkis sejati, seperti idola dia dan ayahnya, Liem Swie King.

Ayah Guntur adalah seorang komentator pertandingan bulu tangkis antar kampung yang juga bekerja sebagai pengumpul bulu angsa, bahan untuk pembuatan shuttlecock. Dia sangat mencintai bulu tangkis dan dia menularkan semangat dan kecintaannya itu pada Guntur, walaupun dia sendiri tidak bisa menjadi seorang juara bulu tangkis

Mendengar cerita ayahnya tentang ”KING” sang idola, Guntur bertekad untuk dapat menjadi juara dunia. Dengan segala keterbatasan dan kendala yang ada dihadapannya, sebagai sahabat setianya Raden pun selalu berusaha membantu Guntur, walaupun kadang bantuan Raden tersebut justru seringkali menyusahkannya. Namun dengan semangat yang tinggi tanpa mengenal lelah, dan pengorbanan berat yang harus dilakukan, Guntur tak henti-hentinya berjuang untuk mendapatkan beasiswa bulu tangkis dan meraih cita-citanya menjadi juara dunia bulu tangkis kebanggaan INDONESIA dan kebanggaan keluarga.

Film King yang dirilis pada tahun 25 Juni 2009 ini, mampu mengingatkan kita pada perjuangan seorang King dalam perjalanan menempati podium tertinggi pada setiap kejuaraan yang ia ikuti. Menghasilkan prestasi yang luar biasa selama 15 tahun kiprahnya dalam dunia bulutangkis. Sampai akhirnya mengukuhkan gelarnya sebanagi King of Smash.



0 komentar:

Poskan Komentar